WORKSHOP IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA (IKM)

Adapun Materi Workshop IKM kita pada hari ini akan berpusat kepada :

1. Esensi Merdeka Belajar 

2. Pengenalan Struktur Kurikulum Merdeka 

3. Hal-hal yang perlu dipahami oleh Guru dalam IMPLEMENTASI KURIKULUM M-E-R-D-E-K-A 

4. Pengenalan Permukaan Pembelajaran Berdifrensiasi.

Esensi Merdeka Belajar mengarahkan mindset bangsa Indonesia untuk percaya bahwa setiap generasi memiliki kelebihannya masing-masing. Kita sebagai orang dewasa yang melek pendidikan tentunya harus mampu mengidentifikasi kelebihan dari seorang anak untuk.
.
Konsep / Gabaran Kurikulum Merdeka Belajar
Inilah konsep kurikulum Merdeka Belajar:
1.Pembelajaran berbasis proyek yang bertujuan mengembangkan soft skill serta karakter sesuai profil pelajar Pancasila.
2.Fokus pada materi esensial, sehingga ada waktu untuk pembelajaran mendalam untuk kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.
3.Fleksibilitas guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi berdasarkan kemampuan para peserta didik.
.
Keunggulan Kurikulum Merdeka Belajar
Dikutip dari ditsmp.kemdikbud.go.id, kurikulum Merdeka Belajar ini memiliki sejumlah keunggulan, yakni:
1.Lebih sederhana dan mendalam. Kurikulum ini berfokus pada materi esensial serta pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Proses pembelajaran akan lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru, serta menyenangkan.
2.Lebih merdeka. Keunggulan lain dari kurikulum Merdeka Belajar ini adalah dihilangkannya peminatan bagi peserta didik jenjang SMA. Peserta didik dapat memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya. Guru juga diharapkan mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik.
3.Lebih relevan dan interaktif. Proses pembelajaran menggunakan kurikulum ini dilakukan melalui kegiatan proyek yang akan memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual.
Demikian penjelasan tentang kurikulum Merdeka Belajar yang perlu kamu ketahui.
.
Merdeka belajar yaitu salah satu upaya kemerdekaan dalam berpikir dan berekspresi. Pada dasarnya program merdeka belajar ini memiliki tujuan untuk memerdekakan guru dan siswa. Ini sejalan dengan semangat Ki Hajar Dewantara yaitu memerdekakan manusia khususnya dalam hal pendidikan.
.
Prof Dr. Gunarti Dwi Lestari, M.Si., M.Pd., memaparkan terkait 7 komponen Contextual Learning.
Guru Besar Unesa tersebut memaparkan 7 komponen Contextual Learning dalam mewujudkan Merdeka Belajar, berikut penjelasannya.
1. Konstruktivisme
Dalam komponen Konstruktivisme berarti berkaitan dengan bagaimana siswa mengaktifkan sebuah pengetahuan yang ada, sehingga nantinya dapat menyusun suatu konsep. Lalu, dengan konsep tersebut siswa bisa saling sharing dan mempraktekkan di lapangan untuk memperoleh pengalaman.
2. Inquiry (Menemukan)
Inquiry berarti menemukan. Dalam komponen ini, siswa mengalami proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. Komponen inquiry membantu siswa untuk berpikir lebih kritis dalam kegiatan belajar.
"Jadi kalau ada tema-tema tertentu diangkat, diperdalam, lalu anak menemukan konsep itu secara kritis, itu dinamakan sudah dia inquiry," ujar dosen Pascasarjana Pendidikan Luar Sekolah Unesa ini.
3. Questioning (Bertanya)
Komponen Contextual Learning selanjutnya yaitu questioning atau bertanya. Kegiatan ini mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.
4. Learning Community (Masyarakat Belajar)
Learning Community berarti orang yang terikat dalam kegiatan belajar. Para siswa nantinya bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri, maka dengan begitu mereka dapat bertukar pengalaman dan berbagi ide.
5. Modelling (Pemodelan)
Pemodelan berarti ada model atau contoh yang bisa ditiru. Biasanya kegiatan modelling ini bisa berupa cara mengerjakan sesuatu, contoh hasil karya, narasumber, dan lain sebagainya. Jadi, guru bukan satu-satunya model, karena dalam Merdeka Belajar peran guru hanya sebagai fasilitator.
6. Reflection (Refleksi)
Siswa nantinya akan merenungkan apa yang telah dipelajari. Refleksi bisa dilakukan dengan cara pernyataan langsung, catatan mengikuti kegiatan, kesan atau saran, dan lain sebagainya.
7. Authentic Assessment (Penilaian yang Sebenarnya)
Dalam komponen ini, pengetahuan dan keterampilan siswa akan diukur atau dinilai. Authentic Assessment ini akan berbeda-beda tiap jenjang pendidikan.
Itulah pembahasan terkait 7 komponen Contextual Learning yang dijelaskan oleh Prof Gunarti. Di akhir ia menyampaikan, kunci dari era Merdeka Belajar yaitu bagaimana membuat pembelajaran menyenangkan.
.

Komentar